Kekhawatiran dunia meningkat setelah harga minyak mentah dunia, Rabu [23/04] mendekati 120 dolar AS per barel meski produsen minyak mentah dunia menyerukan untuk tetap tenang.
Seorang analis mengatakan, melemahnya dolar AS, karena suplai di Nigeria berkurang dan keengganan Negara-Negara produsen minyak mentah dunia (OPEC) meningkatkan produksi telah memicu harga minyak mentah menguat.
Harga minyak mentah utama jenis Light Sweet penyerahan Juni naik empat sen menjadi 118,11 per dolar AS. Kontrak Mei pada Selasa bahkan mencapai 119,37 dolar AS per barel.
Kekhawatiran atas suplai global terlihat dalam kontrak perdagangan di New York yang telah memicu harganya naik lebih dari 57 dolar AS. Harga minyak di New York dan London telah meningkat tajam pada minggu lalu. Harga minyak mentah Laut Utara penyerahan Juni naik lima sen menjadi 116 dolar AS per barel setelah mencapai posisi 115,95 per dolar pada Selasa lalu.
Sentimen pasar sangat bullish dalam jangka pendek, kata Senior Prinsipal of Purvin dan Gertz Energy Consultancy di Singapura, Victor Shum. Melemahnya dolar AS, berkurangnya suplai minyak dari Nigeria juga mendorong harga minyak mentah itu naik, katanya.
Shum mengatakan, kekhawatiran meningkat karena kenaikan harga minyak yang cukup besar dan cukup cepat. Para 74 menteri yang menghadiri pertemuan Forum Energi Internasional di Roma, mengatakan, harga minyak mentah harusnya dapat diterima produsen maupun konsumen untuk menjamin pertumbuhan ekonomi global, terutama di negara-negara berkembang.
Presiden AS George W. Bush menyatakan kekhawatiran atas tinggi harga minyak di pasar. Menteri Perminyakan Arab Saudir, Ali al-Naimi menyerukan tenang dalam menghadapi harga minyak yang terus menguat.
Masalah utama kenaikan harga minyak mentah itu karena kapasitas produksi yang tersedia terbatas, ucapnya.
Arab Saudi yang merupakan produsen terbesar dalam Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Mentah Dunia (OPEC) mengatakan, rencana kenaikan kapasitas produksi sebesar lima juta barel per hari.
Sekjen OPEC Abdalla Salem El-Badri mengatakan, OPEC akan berusaha mendorong kapasitas produksi sebesar 9 juta barel. Produksi OPEC saat ini mencapai 32 juta barel per hari
